FILSAFAT ILMU
“ Mengaitkan Materi
Seminar dengan Hakekat Ilmu “ (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi)
Disusun
Oleh:
Nama :
Trisni Wahyuni, S.Pd
NPM :
A2G 019050
Kelas : A
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Endang
Widi Winarni, M. Pd.
PROGRAM
STUDI MAGISTER PENDIDIKAN DASAR
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
BENGKULU
2019
Judul Seminar :
Mewujudkan Generasi Digital Berbasis Budaya Melalui Etnomatematika dan
Hypnotelling.
Hari/Tanggal : Sabtu, 30 November 2019
Tempat : Aula Dekanat FKIP Universitas
Bengkulu
Tugas : Mengaitkan Materi Seminar
dengan Hakekat Ilmu (Ontologi, Epistemologi
dan Aksiologi
Dalam filsafat pendidikan, ada tiga landasan di
dalam hakekat ilmu yaitu ontologi (mencakup
masalah tentang apa yang ingin kita ketahui), epistemologi (bagaimana cara kita memperolehnya pengetahuan
tersebut), dan axiologi (apa
kegunaannya untuk kita). Ketiga landasan ini akan dikaitkan dengan Workshop dan
Seminar Pendidikan yang telah dilaksanakan sekitar dua minggu yang lalu dengan
Tema “Mewujudkan Generasi Digital Berbasis Budaya” yang diisi dengan materi
Mewujudkan Insan Super Cerdas 5.0 melalui Etnomatematika dan Hypnotelling
(Mendongeng dengan cara menggunakan hypnoterapi). Adapun keterkaitan isi materi
tersebut dapat kita lihat pada pemaparan di bawah ini :
a. Ontologi
Ontologi
merupakan cabang ilmu filsafat mengenai sifat (wujud) atau fenomena yang ingin
diketahui manusia, dengan kata lain mencakup masalah tentang apa yang ingin
kita ketahui dan keberadaan sesuatu tersebut itu bersifat konkret. Sehingga
secara sederhana ontology ini merupakan ilmu yang mempelajari realitas atau
kenyataan konkret secara kritis.
Misalnya
saja dalam mengikuti workshop dan seminar pendidikan pada materi “Mewujudkan
Insan Super Cerdas 5.0 melalui Etnomatematika” dapat kita lihat bahwa ontology
dalam matematika merupakan segala aspek yang ada dalam ilmu matematika yang
bersifat ada atau kongkrit. Dalam proses pembelajaran matematika ada beberapa
hal yang bisa dijadikan contoh ontologi dalam pendidikan matematika yaitu
penggunaan media pembelajaran matematika yang bersifat nyata (ada disekitar
siswa) dan dapat langsung digunakan dalam mengajarkan konsep matematika kepada
peserta didik (sehingga siswa mengalami secara langsung). Contoh lainnya lagi
seperti pembuktian pada teorema-teorema yang dibutikan secara logis,
terstruktur dan sistematis.
Contoh
lainnya yang dapat kita lihat agar pembelajaran Matematika menjadi menarik bagi
siswa kita sebagai pendidik bisa menggunakan etnomatematika dalam konteks
budaya Bengkulu untuk Mathematisasi Horizintal yang bisa kita jadikan starting
point dalam pembelajaran Matematika yang dapat kita lihat dalam seminar ini,
antara lain: dalam pengenalan geometri lobachevsky (pada jaring bamboo untuk
menangkap ikan, permainan sorong terompa, permainan lompat bamboo), pengenalan
geometri riemman (potongan buah kelapa, kue lupis Bengkulu), Segitiga pada
Geometri Lobachevsky (kebiasaan melipat tisu pesta), Theorema Phytagoras
(permainan egrang, yang bisa diambil segitiganya untuk theorem phytagoras),
Konsep Relasi dan Fungsi (Tari Andun), Soal cerita yang melibatkan lingkungan
siswa, Implementasi Integral, sistem persamaan kuadrat, sistem persamaan
linier, pengurangan.
b. Epistemologi
c. Aksiologi
Arus globalisasi merupakan fenomena menarik yang
sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat sekarang ini. Globalisasi sendiri
diartikan sebagai proses mendunianya seluruh kehidupan social, ekonomi, politik
hingga budaya antar seluruh Negara dunia tanpa batas. Hal tersebut bisa dilihat
pada generasi muda Indonesia saat ini yang disebut sebagai generasi digital,
generasi gadget atau yang sering kita kenal dengan generasi milenial.
Generasi milenial merupakan generasi yang akan
memainkan peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rata-rata di
kalangan generasi milenial saat ini memiliki kreativitas tinggi, baik dari
kalangan anak-anak hingga dewasa hampir semuanya sudah mengenal dan menggunakan
internet dalam keseharian aktifitas mereka. Dalam hal ini, guru merupakan
fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu
secara aktif mengembangkan potensi dirinya, sehingga ilmu yang diserap dapat
diterapkan kepada orang lain dan lingkungan sekitar.
Dengan demikian upaya pendidikan
untuk memajukan dan menyiapkan bekal kepada generasi bangsa ini salah satunya
melalui program literasi, sebab literasi merupakan pondasi untuk semua
pembelajaran prasekolah hingga kelas 12. Dalam kurikulum 2013 mata terdapat literasi
sains yang berarti dalam kurikulum dimaksudkan agar siswa melek terhadap sains
atau ilmu pengetahuan. Konsep kurikulum 2013 yang telah dirancang dan
diberlakukan oleh pemerintah telah cukup baik untuk mengemas suatu proses
pembelajaran sains yang lebih aktif, kreatif dan inovatis bagi peserta didik.
Sebab hal ini lebih mampu membuat peserta didik kita untuk lebih mampu dalam
memahami materi. Dalam penerapan literasi sains ini tidak terlepas dari
pendekatan saintifik yang bersifat kontekstual, sehingga proses pembelajaran
bersentuhan langsung dengan kehidupan dan pengalaman nyata siswa dan siswi
kita, karena pada umumnya siswa SD seyogyanya diberikan fenomena sesuai dengan
konteks siswa untuk memberi kesempatan kepada siswa dalam menghubungkan konsep materi
di sekolah dengan kehidupannya. Sehingga akan terciptanya proses pembelajaran
yang hidup dengan siswa yang aktif.
Dalam seminar ini ada beberapa cara dalam
menciptakan dan mengemas sebuah proses pembelajaran agar menjadi menarik bagi
siswa, yaitu melalui Etnomatematika dan Hypnotelling.
Mathematical
Literacy as the 21st Century Skill (Literasi
Matematika sebagai Kemampuan Abad 21) meliputi literasi fungsional, literasi
etikal dan literasi informasional, sehingga terbentuklah literasi integrasi
yaitu tanggung jawab, berpikir kritis, respek terhadap orang lain, kesadaran
penggunaan informasi, menghargai produk intelektual, menjaga nilai moral. Sebab
literasi merupakan pondasi untuk semua pembelajaran dari prasekolah hingga
kelas 12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar