Rabu, 29 April 2020


FILSAFAT ILMU
“ Mengaitkan Materi Seminar dengan Hakekat Ilmu “ (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi)



Disusun Oleh:
Nama          : Trisni Wahyuni, S.Pd
NPM           : A2G 019050
Kelas           :  A

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Endang Widi Winarni, M. Pd.



PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2019
Judul Seminar : Mewujudkan Generasi Digital Berbasis Budaya Melalui Etnomatematika dan
                          Hypnotelling.
Hari/Tanggal   : Sabtu, 30 November 2019
Tempat            : Aula Dekanat FKIP Universitas Bengkulu
Tugas               : Mengaitkan Materi Seminar dengan Hakekat Ilmu (Ontologi, Epistemologi  
                          dan Aksiologi

Dalam filsafat pendidikan, ada tiga landasan di dalam hakekat ilmu yaitu ontologi (mencakup masalah tentang apa yang ingin kita ketahui), epistemologi (bagaimana cara kita memperolehnya pengetahuan tersebut), dan axiologi (apa kegunaannya untuk kita). Ketiga landasan ini akan dikaitkan dengan Workshop dan Seminar Pendidikan yang telah dilaksanakan sekitar dua minggu yang lalu dengan Tema “Mewujudkan Generasi Digital Berbasis Budaya” yang diisi dengan materi Mewujudkan Insan Super Cerdas 5.0 melalui Etnomatematika dan Hypnotelling (Mendongeng dengan cara menggunakan hypnoterapi). Adapun keterkaitan isi materi tersebut dapat kita lihat pada pemaparan di bawah ini :
a.       Ontologi
Ontologi merupakan cabang ilmu filsafat mengenai sifat (wujud) atau fenomena yang ingin diketahui manusia, dengan kata lain mencakup masalah tentang apa yang ingin kita ketahui dan keberadaan sesuatu tersebut itu bersifat konkret. Sehingga secara sederhana ontology ini merupakan ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Misalnya saja dalam mengikuti workshop dan seminar pendidikan pada materi “Mewujudkan Insan Super Cerdas 5.0 melalui Etnomatematika” dapat kita lihat bahwa ontology dalam matematika merupakan segala aspek yang ada dalam ilmu matematika yang bersifat ada atau kongkrit. Dalam proses pembelajaran matematika ada beberapa hal yang bisa dijadikan contoh ontologi dalam pendidikan matematika yaitu penggunaan media pembelajaran matematika yang bersifat nyata (ada disekitar siswa) dan dapat langsung digunakan dalam mengajarkan konsep matematika kepada peserta didik (sehingga siswa mengalami secara langsung). Contoh lainnya lagi seperti pembuktian pada teorema-teorema yang dibutikan secara logis, terstruktur dan sistematis.
Contoh lainnya yang dapat kita lihat agar  pembelajaran Matematika menjadi menarik bagi siswa kita sebagai pendidik bisa menggunakan etnomatematika dalam konteks budaya Bengkulu untuk Mathematisasi Horizintal yang bisa kita jadikan starting point dalam pembelajaran Matematika yang dapat kita lihat dalam seminar ini, antara lain: dalam pengenalan geometri lobachevsky (pada jaring bamboo untuk menangkap ikan, permainan sorong terompa, permainan lompat bamboo), pengenalan geometri riemman (potongan buah kelapa, kue lupis Bengkulu), Segitiga pada Geometri Lobachevsky (kebiasaan melipat tisu pesta), Theorema Phytagoras (permainan egrang, yang bisa diambil segitiganya untuk theorem phytagoras), Konsep Relasi dan Fungsi (Tari Andun), Soal cerita yang melibatkan lingkungan siswa, Implementasi Integral, sistem persamaan kuadrat, sistem persamaan linier, pengurangan.
b.      Epistemologi
c.       Aksiologi
Arus globalisasi merupakan fenomena menarik yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat sekarang ini. Globalisasi sendiri diartikan sebagai proses mendunianya seluruh kehidupan social, ekonomi, politik hingga budaya antar seluruh Negara dunia tanpa batas. Hal tersebut bisa dilihat pada generasi muda Indonesia saat ini yang disebut sebagai generasi digital, generasi gadget atau yang sering kita kenal dengan generasi milenial.
Generasi milenial merupakan generasi yang akan memainkan peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rata-rata di kalangan generasi milenial saat ini memiliki kreativitas tinggi, baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa hampir semuanya sudah mengenal dan menggunakan internet dalam keseharian aktifitas mereka. Dalam hal ini, guru merupakan fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan kepada orang lain dan lingkungan sekitar.
            Dengan demikian upaya pendidikan untuk memajukan dan menyiapkan bekal kepada generasi bangsa ini salah satunya melalui program literasi, sebab literasi merupakan pondasi untuk semua pembelajaran prasekolah hingga kelas 12. Dalam kurikulum 2013 mata terdapat literasi sains yang berarti dalam kurikulum dimaksudkan agar siswa melek terhadap sains atau ilmu pengetahuan. Konsep kurikulum 2013 yang telah dirancang dan diberlakukan oleh pemerintah telah cukup baik untuk mengemas suatu proses pembelajaran sains yang lebih aktif, kreatif dan inovatis bagi peserta didik. Sebab hal ini lebih mampu membuat peserta didik kita untuk lebih mampu dalam memahami materi. Dalam penerapan literasi sains ini tidak terlepas dari pendekatan saintifik yang bersifat kontekstual, sehingga proses pembelajaran bersentuhan langsung dengan kehidupan dan pengalaman nyata siswa dan siswi kita, karena pada umumnya siswa SD seyogyanya diberikan fenomena sesuai dengan konteks siswa untuk memberi kesempatan kepada siswa dalam menghubungkan konsep materi di sekolah dengan kehidupannya. Sehingga akan terciptanya proses pembelajaran yang hidup dengan siswa yang aktif.
Dalam seminar ini ada beberapa cara dalam menciptakan dan mengemas sebuah proses pembelajaran agar menjadi menarik bagi siswa, yaitu melalui Etnomatematika dan Hypnotelling.


Mathematical Literacy as the 21st Century Skill (Literasi Matematika sebagai Kemampuan Abad 21) meliputi literasi fungsional, literasi etikal dan literasi informasional, sehingga terbentuklah literasi integrasi yaitu tanggung jawab, berpikir kritis, respek terhadap orang lain, kesadaran penggunaan informasi, menghargai produk intelektual, menjaga nilai moral. Sebab literasi merupakan pondasi untuk semua pembelajaran dari prasekolah hingga kelas 12.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar