Rabu, 29 April 2020


Kisahku dalam Meraih Mimpi
Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang lahir dari keluarga sederhana dan sedikit berkecukupan. Sekarang aku sudah mempunyai kehidupan sendiri, sudah berstatus sebagai seorang istri, sebagai Ibu dari dua orang anak, sebagai seorang guru untukku mengabdi pada bangsa dan Negara ini, serta aku juga sebagai salah satu pemilik dari sebuah usaha kecil-kecilan. Namun cerita ini akan mengulang di kehidupan masa laluku, perjuanganku dan usahaku dalam meraih semua impian dan cita-citaku.
            Kembali pada kejadian tiga belas tahun yang lalu, yaitu pada tahun 2006 dimana aku masih berstatus sebagai salah satu siswa SMK Negeri 1 di daerahku, saat itu aku mengambil jurusan Akuntansi. Sebab pada saat itu keinginanku untuk bekerja di Bank sangatlah besar. Disuatu malam, papaku dengan serius memanggil kami semua anaknya untuk berkumpul di ruang keluarga. Hal yang aku ingat hingga saat ini dari pesan papaku malam itu yaitu ketika dia memberikan kami semua motivasi untuk ke depannya.
            “Anak-anakku, papa kalian ini bukanlah seorang Sarjana, papa juga bukanlah orang yang berjabatan, papa juga bukan orang yang mempunyai banyak uang. Tapi walau begitu, papa akan berusaha mencari uang untuk menyekolahkan kalian agar kalian anak-anak papa bisa menjadi Sarjana semua. Jadi papa harap kalian betul- betul sekolah yang rajin, belajar yang benar, tidak usah mengikuti teman- teman kalian yang suka main-main. Karena, yang bisa merubah nasib kalian adalah kalian sendiri. Mau jadi orang yang berhasil dan sukses, kalian sendirilah yang menentukannya.” Ucap papaku saat itu dengan nada tegas namun penuh dengan kasih sayang.
            Kami anak-anaknya saat itu hanya diam, meresapi semua perkataan dan pesan yang papa sampaikan malam itu dengan hati yang ketir, sedih dan merasa menyesal karena mungkin kami belum bisa memberikan yang terbaik untuk semua pengorbanannya. Namun, sejak malam itu pesan itu selalu aku ingat dan menjadikannya sebagai motivasiku untuk menjadi orang berhasil suatu saat nanti, agar keduaorangtuaku bisa merasa bangga dengan anak-anaknya ini.
            Ketika aku tamat sekolah, akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan studiku ke perguruan tinggi di daerahku, saat itu aku memilih Universitas Bengkulu dan mengambil Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Alhamdulillah berkat doa keluargaku, aku lulus menjadi salah satu Mahasiswa di sana. Dengan tekad di dalam hatiku, aku harus bisa menjadi mahasiswa yang aktif dan kreatif, baik di bidang akademik maupun di bidang non akademik, aku harus bisa tamat dengan IPK Cumlaude dan membuat keduaorangtuaku bangga. Maka pada saat itu, kutuliskan semua mimpi-mimpiku 5 tahun ke depan disebuah kertas di binderku.
            Kisahku sebagai seorang mahasiswapun dimulai. Selama dibangku kuliah, akupun mulai mengikuti bebagai Organisasi Mahasiswa di kampusku, seperti HIMA PGSD, BEM FKIP, BEM UNIB, dan Organisasi Kepramukaan. Aku selalu berusaha keras membagi waktu untuk akademikku juga organisasiku, sebab untuk menjadi orang yang sukses, tidak hanya membutuhkan nilai akademik yang bagus saja, tapi kita juga harus bisa ikut berinteraksi dengan orang-orang di dalam sebuah organisasi. Karena ini memberikan pengalaman, ilmu, dan juga manfaat lainnya yang tidak kita dapat di bidang akademik.
            Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan saat duduk dibangku kuliah, salah satunya ketika aku duduk di semester tiga. Saat itu baru musim-musimnya tekhnologi  laptop di kalangan mahasiswa. Besar keinginanku untuk memiliki sebuah laptop saat itu, namun tidak berani menyampaikannya kepada orangtuaku. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk berjualan kue di kampus. Keinginan ini aku lakukan selama 1,5 bulan. Jadi setiap malam, aku selalu memasak kue sendiri, dan ketika subuh akupun bangun untuk mengemas, menggoreng, dan menyiapkan kue jualanku dengan dibantu adek bungsuku saat itu.
            Begitu besar rasa egoku saat itu, sampai keinginanku untuk mempunyai sebuah laptop tidak tersampaikan kepada orangtuaku, akhirnya membuatku menjadi uring-uringan di depan orangtuaku. Aku akhirnya mulai tidak menegur papa dan mamaku, mulai diam saja ketika di rumah, kejadian ini berlanjut hingga satu bulanan. Sampai pada akhirnya papa memanggilku saat aku pulang dari kampus.
            “Ada apa dengan kamu, nak?” Tanya papaku dengan nada marah dan sorot mata yang begitu tajam.
            “Tidak ada apa-apa , pa.” Akupun menjawab sambil menunduk dan menahan air mata.
            “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kami orangtuamu kamu diamkan? Kamu tau itu dosa?” Timpa papaku masih dengan emosi di nada bicaranya.
            “Iya pa, maaf…. Sebenarnya aku tuh mau punya laptop pa, untuk menunjang tugas kuliah.” Jawabku dengan pandangan menunduk dan air mata yang terus jatuh memabasahi pipiku.
            “Lain kali tuh ngomong, nak. Mana papa tau kamu itu mau apa? Sekarang berapa ada uang kamu untuk membeli laptop?” Tanya papaku.
            “Baru ada 2 juta pa.” Jawabku.
            Sambil menyerahkan kartu ATM nya kepadaku, kemudian papaku berkata
“Nah, ambilah duit di ATM papa sesuai kekurangan harga laptopnya, belilah laptop yang kamu mau.” Ucap papa.
            “Makasih pa, dan aku minta maaf pa untuk sebulan ini kelakukanku yang salah.” Jawabku sambil mencium tangannya.
            Akhirnya hari itu ketika aku duduk di semester tiga, aku mampu  membeli laptop impianku dari hasil tabunganku sendiri dan juga dibantu dari subsidi papa. Laptop inilah yang aku gunakan dalam menyelesaikan studiku hingga saat ini dalam menggapai semua impian-impianku.
            Selanjutnya kisah perjuanganku ini berlanjut di semester empat kala itu, ingin sekali rasanya aku mempunyai sebuah kendaraan roda doa seperti teman-temanku. Keinginan ini sudah aku sampaikan kepada keduaorangtuaku. Namun, papa tidak menyetujuinya dan selalu menggunakan perbandingan kehidupan cerita zaman beliau sekolah dulu,  untuk mematahkan keinginanku agar mempunyai kendaaran beroda dua saat itu.
            Akhirnya aku putuskan untuk mencari pekerjaan sampingan, setelah jadwal kuliahku. Setelah dua jenis pekerjaan yang coba aku lamar, alhasil banyak menolak untuk menerimaku, karena jadwal kuliahku yang regular, yang tidak bisa diajak untuk membagi waktu kuliah dan kerjaan. Akhirnya aku dipertemukan dengan sebuah tempat makan, tempat nongkrong anak muda hingga kegiatan keluarga, De Palma Resto & Lounge, itu nama tempatku bekerja saat itu.
            Setelah mulai bekerja, stiap hari aku selalu membawa pakaian ganti ke kampus. Setelah pulang kuliah, aku selalu menuju tempat kerjaku. Aku bekerja sebagai salah satu waiters atau pelayan yang melayani pesanan, mengantarkan pesanan, bahkan membersihkan meja setelah pelanggan selesai menyantap makanan. Jam kerjaku selalu di mulai dari jam 3 sore hingga jam 12 malam. Dengan kondisi jam kerja yang seperti itu, aku harus bisa membagi waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahku. Terkadang aku harus merasakan dipotong gaji, jika jadwal kuliahku hingga jam 4 sore, yang berarti aku telat untuk bekerja. Aku juga harus merasakan tidur jam 3 dini hari, dikarenakan tugas-tugas kuliah yang begitu banyak.
            Keinginan untuk bekerja ini, bertentangan dengan keinginan papaku saat itu. Ia  tidak setuju kalau anak gadis mereka ini pulang larut malam. Namun papaku tidak bisa melarang keinginanku ini. Sebab, papa tidak mengabulkan keinginanku untuk mempunya sebuah kendaraan, sedangkan aku anaknya yang keras kepala, yang akan berjuang mencari apa keinginannya agar bisa terwujud. Akhirnya, setiap tengah malam papa selalu menjemputku setiap aku pulang bekerja.
            Setelah tiga bulan aku bekerja menjadi waiters di tempat itu, aku akhirnya diangkat menjadi kasir. Tugasku mengatur kinerja semua waiters dan melayani soal transaksi keuangan yang terjadi di tempatku bekerja. Akhirnya setelah 6 bulan aku bekerja di sana, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Sebab aku harus fokus dengan kuliahku karena sudah semester empat. Keinginanku untuk mempunyai uang sebagai DP agar aku bisa kredit motor sudah terwujud, yakni hasil kerjaku selama enam bulan, aku bisa menyimpan uang sebesar 3,6 jt saat itu.
            Akhirnya, aku mengambil kredit motor Honda Beat berwarna putih, dengan DP senilai 4,5 jt selama 2 tahun. Untuk bayar cicilannya, alhasil aku harus memutar otak kembali, berjualan online, berjulaan pulsa dengan lebih giat lagi. Sampai akhirnya terdengar olehku, salah satu program di UNIB, yaitu Program Mahasiswa Wirausaha. Akupun mendaftar dan mengikuti semua tahapan seleksi yang harus dilalui untuk mendapatkan program itu. Alhamdulillah, akhirnya aku menjadi salah satu mahasiwa yang menerima bantuan Program Mahasiswa Wirausaha. Dengan dana 10 juta, akhirnya aku membuka usaha yang aku beri nama “Unique Shop & Cellular”.
            Unique Shop & Cellular adalah usaha yang bergerak di bidang pakaian, batik, aksesoris, pernak pernik behel dan juga pulsa. Usaha ini aku jalankan selama 2 tahun, dengan membuka Outlet di rumah dan juga menjajakannya secara langsung kepada teman-teman mahasiswa di kampus dan lainnya. Usaha ini aku lakukan dari aku duduk di semester empat hingga aku menyelesaikan studi S1 ku di Universitas Bengkulu.
            Setelah empat tahun atau delapan semester akhirnya aku bisa menyelesaikan Studi S1 ku di Universitas Bengkulu. Alhamdulillah, aku lulus dengan predikat Cumlaude walau IPK ku hanya 3, 54 saat itu. Begitu besar rasa terima kasihku untuk Universitas tercinta ini, sebab selama empat tahun menempuh pendidikan di kampus ini, aku sudah menerima satu kali beasiswa dari salah satu Bank di daerah ini, empat kali bantuan beasiswa PPA prestasi dan satu bantuan Program Mahasiswa Wirausaha.
            Setelah tamat kuliah, aku mencoba mencari pekerjaan dari swasta hingga menjadi pengajar bahkan guru les. Akhirnya setelah kegagalanku mengikuti tes CPNS tahun 2012 di Kabupaten Lebong saat itu, membuat tekadku makin serius untuk belajar lebih giat lagi soal kekuranganku di Kewarganegaraan. Hingga pilihanku saat itu berlabuh menjadi salah satu pengajar di Ganesha Operation. Selama hampir satu tahun aku bergabung menjadi keluarga besar di bimbingan belajar itu, selama itu pula aku terus mengulang-ngulang berbagai materi dan mengasah kembali kekuranganku yang membuat aku gagal untuk lulus tes CPNS waktu itu.
            Sekitar bulan September 2013, akhirnya ada pembukaan tes CPNS kembali untuk Tujuh Kabupaten saat itu. Kebetulan sekali formasi lulusanku saat itu memiliki peluang yang sangat besar, sekitar 110 orang untuk enam Kabupaten. Akhirnya aku memutuskan untuk tes kembali di Kabupaten Lebong, ini aku lakukan untuk menghilangkan rasa penasaran dan kekecewaanku akan kegagalanku di tahun lalu. Alhamdulillah, berkat usahaku, doaku, doa orangtuaku, dan doa semua orang-orang di sekitarku, akhirnya di ujung tahun saat pengumuman kelulusan Tes CPNS, namaku tertera di salah satu berita harian di daerahku. Sambil meneteskan air mata sebagai rasa syukurku, terharu, bahagia ketika melihat nama ku tertera disana, akhirnya aku bisa membuat orangtuaku bangga, membuat mereka bahagia, bahwa usaha dan keringat mereka menyekolahkanku tidak sia-sia. Terima kasih ya Allah, Ya Rabbi, Papa, Mama dan semuanya.
            Sekarang sudah hampir enam tahun pengangkatanku, Alhamdulillah Allah SWT tidak berhenti memberikan aku kesempatan dan rezeki untuk terus berjuang meraih mimpi-mimpiku, akhirnya sekarang aku sudah memiliki Sertifikat Pendidik dan lulus Sertifikasi, aku juga terdaftar sebagai salah satu Mahasiswa S2 di Universitas yang membesarkanku, aku juga sudah mempunyai hunian yang sederhana untuk keluarga kecil kami berteduh, dan mempunyai usaha sampingan untuk menunjang perekonomian keluarga kecil kami.
            Inilah sedikit kisahku dalam meraih impian, dibutuhkan kerja keras, motivasi, perjuangan, dan disiplin diri dalam menggapai itu semua. Sebab tidak ada kesuksesan tanpa adanya usaha. Terkadang sebuah hinaan, cacian, anggapan remeh dari orang lain bisa membuat kita berusaha lebih giat lagi dalam meraih semua mimpi. Dalam setiap kisah hidup yang dijalani manusia, pasti akan ada orang-orang yang tidak menyukai kita dan mereka akan selalu mencoba untuk menjatuhkan kita. Namun perlakuan seperti itu sebaiknya tidak kita balas dengan cara yang sama. Melainkan, terima tantangan mereka dengan cara yang sportif, yaitu kita harus mencapai kesuksesan di atas mereka. Tunjukan bahwa mereka memiliki penilaian yang salah atas diri kita, serta tunjukan bahwa semua orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi seseorang yang besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar