Kisahku dalam Meraih
Mimpi
Aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang
lahir dari keluarga sederhana dan sedikit berkecukupan. Sekarang aku sudah
mempunyai kehidupan sendiri, sudah berstatus sebagai seorang istri, sebagai Ibu
dari dua orang anak, sebagai seorang guru untukku mengabdi pada bangsa dan
Negara ini, serta aku juga sebagai salah satu pemilik dari sebuah usaha
kecil-kecilan. Namun cerita ini akan mengulang di kehidupan masa laluku,
perjuanganku dan usahaku dalam meraih semua impian dan cita-citaku.
Kembali pada kejadian tiga belas
tahun yang lalu, yaitu pada tahun 2006 dimana aku masih berstatus sebagai salah
satu siswa SMK Negeri 1 di daerahku, saat itu aku mengambil jurusan Akuntansi.
Sebab pada saat itu keinginanku untuk bekerja di Bank sangatlah besar. Disuatu
malam, papaku dengan serius memanggil kami semua anaknya untuk berkumpul di
ruang keluarga. Hal yang aku ingat hingga saat ini dari pesan papaku malam itu
yaitu ketika dia memberikan kami semua motivasi untuk ke depannya.
“Anak-anakku, papa kalian ini
bukanlah seorang Sarjana, papa juga bukanlah orang yang berjabatan, papa juga
bukan orang yang mempunyai banyak uang. Tapi walau begitu, papa akan berusaha
mencari uang untuk menyekolahkan kalian agar kalian anak-anak papa bisa menjadi
Sarjana semua. Jadi papa harap kalian betul- betul sekolah yang rajin, belajar
yang benar, tidak usah mengikuti teman- teman kalian yang suka main-main.
Karena, yang bisa merubah nasib kalian adalah kalian sendiri. Mau jadi orang
yang berhasil dan sukses, kalian sendirilah yang menentukannya.” Ucap papaku
saat itu dengan nada tegas namun penuh dengan kasih sayang.
Kami anak-anaknya saat itu hanya
diam, meresapi semua perkataan dan pesan yang papa sampaikan malam itu dengan
hati yang ketir, sedih dan merasa menyesal karena mungkin kami belum bisa
memberikan yang terbaik untuk semua pengorbanannya. Namun, sejak malam itu
pesan itu selalu aku ingat dan menjadikannya sebagai motivasiku untuk menjadi
orang berhasil suatu saat nanti, agar keduaorangtuaku bisa merasa bangga dengan
anak-anaknya ini.
Ketika aku tamat sekolah, akhirnya
aku putuskan untuk melanjutkan studiku ke perguruan tinggi di daerahku, saat
itu aku memilih Universitas Bengkulu dan mengambil Jurusan Pendidikan Guru
Sekolah Dasar (PGSD). Alhamdulillah berkat doa keluargaku, aku lulus menjadi
salah satu Mahasiswa di sana. Dengan tekad di dalam hatiku, aku harus bisa
menjadi mahasiswa yang aktif dan kreatif, baik di bidang akademik maupun di
bidang non akademik, aku harus bisa tamat dengan IPK Cumlaude dan membuat
keduaorangtuaku bangga. Maka pada saat itu, kutuliskan semua mimpi-mimpiku 5
tahun ke depan disebuah kertas di binderku.
Kisahku sebagai seorang mahasiswapun
dimulai. Selama dibangku kuliah, akupun mulai mengikuti bebagai Organisasi Mahasiswa
di kampusku, seperti HIMA PGSD, BEM FKIP, BEM UNIB, dan Organisasi Kepramukaan.
Aku selalu berusaha keras membagi waktu untuk akademikku juga organisasiku,
sebab untuk menjadi orang yang sukses, tidak hanya membutuhkan nilai akademik
yang bagus saja, tapi kita juga harus bisa ikut berinteraksi dengan orang-orang
di dalam sebuah organisasi. Karena ini memberikan pengalaman, ilmu, dan juga
manfaat lainnya yang tidak kita dapat di bidang akademik.
Banyak sekali pengalaman-pengalaman
yang sangat berkesan saat duduk dibangku kuliah, salah satunya ketika aku duduk
di semester tiga. Saat itu baru musim-musimnya tekhnologi laptop di kalangan mahasiswa. Besar
keinginanku untuk memiliki sebuah laptop saat itu, namun tidak berani
menyampaikannya kepada orangtuaku. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk
berjualan kue di kampus. Keinginan ini aku lakukan selama 1,5 bulan. Jadi
setiap malam, aku selalu memasak kue sendiri, dan ketika subuh akupun bangun
untuk mengemas, menggoreng, dan menyiapkan kue jualanku dengan dibantu adek
bungsuku saat itu.
Begitu besar rasa egoku saat itu,
sampai keinginanku untuk mempunyai sebuah laptop tidak tersampaikan kepada
orangtuaku, akhirnya membuatku menjadi uring-uringan di depan orangtuaku. Aku
akhirnya mulai tidak menegur papa dan mamaku, mulai diam saja ketika di rumah,
kejadian ini berlanjut hingga satu bulanan. Sampai pada akhirnya papa
memanggilku saat aku pulang dari kampus.
“Ada apa dengan kamu, nak?” Tanya
papaku dengan nada marah dan sorot mata yang begitu tajam.
“Tidak ada apa-apa , pa.” Akupun
menjawab sambil menunduk dan menahan air mata.
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa
kami orangtuamu kamu diamkan? Kamu tau itu dosa?” Timpa papaku masih dengan
emosi di nada bicaranya.
“Iya pa, maaf…. Sebenarnya aku tuh
mau punya laptop pa, untuk menunjang tugas kuliah.” Jawabku dengan pandangan
menunduk dan air mata yang terus jatuh memabasahi pipiku.
“Lain kali tuh ngomong, nak. Mana
papa tau kamu itu mau apa? Sekarang berapa ada uang kamu untuk membeli laptop?”
Tanya papaku.
“Baru ada 2 juta pa.” Jawabku.
Sambil menyerahkan kartu ATM nya
kepadaku, kemudian papaku berkata
“Nah,
ambilah duit di ATM papa sesuai kekurangan harga laptopnya, belilah laptop yang
kamu mau.” Ucap papa.
“Makasih pa, dan aku minta maaf pa
untuk sebulan ini kelakukanku yang salah.” Jawabku sambil mencium tangannya.
Akhirnya hari itu ketika aku duduk
di semester tiga, aku mampu membeli
laptop impianku dari hasil tabunganku sendiri dan juga dibantu dari subsidi
papa. Laptop inilah yang aku gunakan dalam menyelesaikan studiku hingga saat
ini dalam menggapai semua impian-impianku.
Selanjutnya kisah perjuanganku ini
berlanjut di semester empat kala itu, ingin sekali rasanya aku mempunyai sebuah
kendaraan roda doa seperti teman-temanku. Keinginan ini sudah aku sampaikan
kepada keduaorangtuaku. Namun, papa tidak menyetujuinya dan selalu menggunakan perbandingan
kehidupan cerita zaman beliau sekolah dulu, untuk mematahkan keinginanku agar mempunyai
kendaaran beroda dua saat itu.
Akhirnya aku putuskan untuk mencari
pekerjaan sampingan, setelah jadwal kuliahku. Setelah dua jenis pekerjaan yang coba
aku lamar, alhasil banyak menolak untuk menerimaku, karena jadwal kuliahku yang
regular, yang tidak bisa diajak untuk membagi waktu kuliah dan kerjaan.
Akhirnya aku dipertemukan dengan sebuah tempat makan, tempat nongkrong anak
muda hingga kegiatan keluarga, De Palma Resto & Lounge, itu nama tempatku
bekerja saat itu.
Setelah mulai bekerja, stiap hari
aku selalu membawa pakaian ganti ke kampus. Setelah pulang kuliah, aku selalu
menuju tempat kerjaku. Aku bekerja sebagai salah satu waiters atau pelayan yang melayani pesanan, mengantarkan pesanan,
bahkan membersihkan meja setelah pelanggan selesai menyantap makanan. Jam
kerjaku selalu di mulai dari jam 3 sore hingga jam 12 malam. Dengan kondisi jam
kerja yang seperti itu, aku harus bisa membagi waktu untuk menyelesaikan
tugas-tugas kuliahku. Terkadang aku harus merasakan dipotong gaji, jika jadwal
kuliahku hingga jam 4 sore, yang berarti aku telat untuk bekerja. Aku juga harus
merasakan tidur jam 3 dini hari, dikarenakan tugas-tugas kuliah yang begitu
banyak.
Keinginan untuk bekerja ini,
bertentangan dengan keinginan papaku saat itu. Ia tidak setuju kalau anak gadis mereka ini
pulang larut malam. Namun papaku tidak bisa melarang keinginanku ini. Sebab,
papa tidak mengabulkan keinginanku untuk mempunya sebuah kendaraan, sedangkan
aku anaknya yang keras kepala, yang akan berjuang mencari apa keinginannya agar
bisa terwujud. Akhirnya, setiap tengah malam papa selalu menjemputku setiap aku
pulang bekerja.
Setelah tiga bulan aku bekerja
menjadi waiters di tempat itu, aku
akhirnya diangkat menjadi kasir. Tugasku mengatur kinerja semua waiters dan
melayani soal transaksi keuangan yang terjadi di tempatku bekerja. Akhirnya
setelah 6 bulan aku bekerja di sana, aku memutuskan untuk berhenti bekerja.
Sebab aku harus fokus dengan kuliahku karena sudah semester empat. Keinginanku
untuk mempunyai uang sebagai DP agar aku bisa kredit motor sudah terwujud,
yakni hasil kerjaku selama enam bulan, aku bisa menyimpan uang sebesar 3,6 jt
saat itu.
Akhirnya, aku mengambil kredit motor
Honda Beat berwarna putih, dengan DP senilai 4,5 jt selama 2 tahun. Untuk bayar
cicilannya, alhasil aku harus memutar otak kembali, berjualan online, berjulaan
pulsa dengan lebih giat lagi. Sampai akhirnya terdengar olehku, salah satu
program di UNIB, yaitu Program Mahasiswa Wirausaha. Akupun mendaftar dan
mengikuti semua tahapan seleksi yang harus dilalui untuk mendapatkan program itu.
Alhamdulillah, akhirnya aku menjadi salah satu mahasiwa yang menerima bantuan
Program Mahasiswa Wirausaha. Dengan dana 10 juta, akhirnya aku membuka usaha
yang aku beri nama “Unique Shop &
Cellular”.
Unique
Shop & Cellular adalah usaha yang bergerak di bidang pakaian, batik,
aksesoris, pernak pernik behel dan juga pulsa. Usaha ini aku jalankan selama 2
tahun, dengan membuka Outlet di rumah dan juga menjajakannya secara langsung
kepada teman-teman mahasiswa di kampus dan lainnya. Usaha ini aku lakukan dari
aku duduk di semester empat hingga aku menyelesaikan studi S1 ku di Universitas
Bengkulu.
Setelah empat tahun atau delapan
semester akhirnya aku bisa menyelesaikan Studi S1 ku di Universitas Bengkulu.
Alhamdulillah, aku lulus dengan predikat Cumlaude walau IPK ku hanya 3, 54 saat
itu. Begitu besar rasa terima kasihku untuk Universitas tercinta ini, sebab
selama empat tahun menempuh pendidikan di kampus ini, aku sudah menerima satu
kali beasiswa dari salah satu Bank di daerah ini, empat kali bantuan beasiswa
PPA prestasi dan satu bantuan Program Mahasiswa Wirausaha.
Setelah tamat kuliah, aku mencoba
mencari pekerjaan dari swasta hingga menjadi pengajar bahkan guru les. Akhirnya
setelah kegagalanku mengikuti tes CPNS tahun 2012 di Kabupaten Lebong saat itu,
membuat tekadku makin serius untuk belajar lebih giat lagi soal kekuranganku di
Kewarganegaraan. Hingga pilihanku saat itu berlabuh menjadi salah satu pengajar
di Ganesha Operation. Selama hampir
satu tahun aku bergabung menjadi keluarga besar di bimbingan belajar itu,
selama itu pula aku terus mengulang-ngulang berbagai materi dan mengasah
kembali kekuranganku yang membuat aku gagal untuk lulus tes CPNS waktu itu.
Sekitar bulan September 2013,
akhirnya ada pembukaan tes CPNS kembali untuk Tujuh Kabupaten saat itu.
Kebetulan sekali formasi lulusanku saat itu memiliki peluang yang sangat besar,
sekitar 110 orang untuk enam Kabupaten. Akhirnya aku memutuskan untuk tes
kembali di Kabupaten Lebong, ini aku lakukan untuk menghilangkan rasa penasaran
dan kekecewaanku akan kegagalanku di tahun lalu. Alhamdulillah, berkat usahaku,
doaku, doa orangtuaku, dan doa semua orang-orang di sekitarku, akhirnya di
ujung tahun saat pengumuman kelulusan Tes CPNS, namaku tertera di salah satu
berita harian di daerahku. Sambil meneteskan air mata sebagai rasa syukurku,
terharu, bahagia ketika melihat nama ku tertera disana, akhirnya aku bisa
membuat orangtuaku bangga, membuat mereka bahagia, bahwa usaha dan keringat
mereka menyekolahkanku tidak sia-sia. Terima kasih ya Allah, Ya Rabbi, Papa,
Mama dan semuanya.
Sekarang sudah hampir enam tahun
pengangkatanku, Alhamdulillah Allah SWT tidak berhenti memberikan aku
kesempatan dan rezeki untuk terus berjuang meraih mimpi-mimpiku, akhirnya
sekarang aku sudah memiliki Sertifikat Pendidik dan lulus Sertifikasi, aku juga
terdaftar sebagai salah satu Mahasiswa S2 di Universitas yang membesarkanku,
aku juga sudah mempunyai hunian yang sederhana untuk keluarga kecil kami
berteduh, dan mempunyai usaha sampingan untuk menunjang perekonomian keluarga
kecil kami.
Inilah sedikit kisahku dalam meraih
impian, dibutuhkan kerja keras, motivasi, perjuangan, dan disiplin diri dalam
menggapai itu semua. Sebab tidak ada kesuksesan tanpa adanya usaha. Terkadang
sebuah hinaan, cacian, anggapan remeh dari orang lain bisa membuat kita
berusaha lebih giat lagi dalam meraih semua mimpi. Dalam setiap kisah hidup
yang dijalani manusia, pasti akan ada orang-orang yang tidak menyukai kita dan
mereka akan selalu mencoba untuk menjatuhkan kita. Namun perlakuan seperti itu
sebaiknya tidak kita balas dengan cara yang sama. Melainkan, terima tantangan
mereka dengan cara yang sportif, yaitu kita harus mencapai kesuksesan di atas
mereka. Tunjukan bahwa mereka memiliki penilaian yang salah atas diri kita,
serta tunjukan bahwa semua orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk
menjadi seseorang yang besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar