Rabu, 29 April 2020


TUGAS
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
“Laporan Tentang Pesan Nilai dan Moral yang terkandung dalam Materi Seminar”


Disusun Oleh:
Nama          : Trisni Wahyuni, S.Pd
NPM           : A2G 019050
Kelas           :  A

Dosen Pengampu:

Dr. Puspa Djuwita, M. Pd.



PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2019
“Laporan Tentang Pesan Nilai dan Moral yang terkandung dalam Materi Seminar”
Judul Seminar : Mewujudkan Generasi Digital Berbasis Budaya
Hari/Tanggal   : Sabtu, 30 November 2019
Tempat            : Aula Dekanat FKIP Universitas Bengkulu
Hasil                :
            Arus globalisasi merupakan  fenomena menarik yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat sekarang ini. Globalisasi sendiri diartikan sebagai proses mendunianya seluruh kehidupan social, ekonomi, politik hingga budaya antar seluruh Negara dunia tanpa batas. Hal tersebut bisa dilihat pada generasi muda Indonesia saat ini yang disebut sebagai generasi digital, generasi gadget atau yang sering kita kenal dengan generasi milenial.
Generasi milenial merupakan generasi yang akan memainkan peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rata-rata di kalangan generasi milenial saat ini memiliki kreativitas tinggi, baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa hampir semuanya sudah mengenal dan menggunakan internet dalam keseharian aktifitas mereka. Namun karena hidup di era yang serba otomatis, generasi ini cenderung menginginkan sesuatu yang serba instan dan sangat gampang dipengaruhi.
Oleh karena itu tanpa disadari ini mengakibatkan hilangnya keseimbangan moral di kalangan pemuda milineal. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ternayata penyimpangan moral dan pergeseran nilai-nilai sosial lah yang menjadi tonggak dasar dari segala masalah yang terjadi di Negara kita ini. Nilai dan moral ini bukan saja bersifat personal, seperti jujur, adil dan bertanggungjawab, akan tetapi juga berdimensi publik, yakni terciptanya etika kolektif, serta kehidupan social yang santun. Sehingga, diharapkan nantinya pemuda milenial inilah yang harus mengambil peranan penting dan menjadi solusi dan berdiri di garda terdepan sebagai benteng untuk segala permasalahan yang terjadi.
Hal inilah yang menjadi titik kritis bagi masa depan Negara dan bangsa kita. Sebab ditengah maraknya perkembangan tekhnologi komunikasi saat ini, tetapi disisi lain ternyata hal ini tidak mampu mendekatkan dan menyatukan anak bangsa. Padahal era komunikasi terbukti memberi jaminan akses dan kecepatan untuk kita memperoleh informasi. Akan tetapi justru ini menciptakan jarak antara seseorang dengan orang lain, sehingga membuat hubungan menjadi tidak komunikatif dan berujung rusaknya hubungan interpersonal.
Oleh sebab itu ini menjadi keluhan di lingkungan masyarakat kita sekarang ini. Sehingga dengan demikian kita harus mampu membangun karakter nilai dan moral bangsa khusunya dalam hal budaya di era milenial ini. Maka dari itu, kita sebagai seorang pendidik berupaya dapat mewujudkan hal tersebut melalui proses pendidikan yang dapat diterapkan di sekolah- sekolah. Sehingga sebagai seorang guru, dalam mendidik budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan nilai moral, nilai social, nilai agama yang berlandaskan pada Pancasila kepada para peserta didik melalui pendidikan hati, otak dan fisik. Dalam hal ini, guru merupakan fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan kepada orang lain dan lingkungan sekitar. Pendidikan Pancasila merupakan pedoman sangat penting dalam proses belajar mengajar sebagai salah satu antisipasi agar anak-anak didik kita terhindar terhindar dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan moral bangsa di era globalisasi saat ini. Serta peran orang tua harus lebih ditingkatkan lagi dalam mengajarkan nilai-milai kesopanan dan kesantunan sesuai dengan budaya kita Indonesia.
Dengan demikian upaya pendidikan untuk memajukan dan menyiapkan bekal kepada generasi bangsa ini salah satunya melalui program literasi, sebab literasi merupakan pondasi untuk semua pembelajaran prasekolah hingga kelas 12 yang bertujuan kepada Pancasila. meliputi literasi fungsional, literasi etikal dan literasi informasional, sehingga terbentuklah literasi integrasi yang bisa menumbuhkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, berpikir kritis, respek terhadap orang lain, kesadaran penggunaan informasi, menghargai produk intelektual, menjaga nilai moral. Sebab literasi merupakan pondasi untuk semua pembelajaran dari prasekolah hingga kelas 12.
Selanjutnya kita sebagai pendidik juga bisa melaksanakan proses pembelajaran melalui hypnotelling, yaitu dengan cara mengemas proses pembelajaran menjadi sangat menarik bagi siswa, agar siswa bisa fokus dan tertarik memperhatikan selama kegiatan pembelajaran itu berlangsung. Hypnotelling ini bisa kita masukan ke semua mata pelajaran dengan materi-materi tertentu yang bisa kita kaitkan. Misalnya pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan sosial, guru bisa menampilkan materi-materi tersebut melalui cerita atau dongeng yang dilakukan dengan penghayatan dan penjiwaan yang bagus, sehingga siswa terfokus untuk memperhatikan, dan diharapkan nilai-nilai moral serta pengetahuan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Selanjutnya untuk pembelajaran Matematika agar menjadi menarik bagi siswa kita sebagai pendidik bisa menggunakan etnomatematika dalam konteks budaya Bengkulu untuk Mathematisasi Horizintal yang bisa kita jadikan starting point dalam pembelajaran Matematika yang dapat kita lihat dalam seminar ini, antara lain: dalam pengenalan geometri lobachevsky (pada jaring bamboo untuk menangkap ikan, permainan sorong terompa, permainan lompat bamboo), pengenalan geometri riemman (potongan buah kelapa, kue lupis Bengkulu), Segitiga pada Geometri Lobachevsky (kebiasaan melipat tisu pesta), Theorema Phytagoras (permainan egrang, yang bisa diambil segitiganya untuk theorem phytagoras), Konsep Relasi dan Fungsi (Tari Andun), Soal cerita yang melibatkan lingkungan siswa, Implementasi Integral, sistem persamaan kuadrat, sistem persamaan linier, pengurangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar